Kamis, 20 November 2014

Pure, Cold a Goodness

Seperti wanita pada umumnya, memasak adalah pekerjaan yang harus ia
perankan (di-peran-kan) bagi yang merasa wanita yang 'baik-baik aja'. Begitulah memasak nasi sudah menjadi pekerjaan wajib. Ya iyalah yaa.. nasi udah jadi makanan pokok warga negara ini.
Pagi ini, seperti biasa
sunyi dan (hampir) ngebosanin. Iya juga sih, mungkin karna belakangan ini saya sedikit sensitif dan sedikit (juga) terlibat perdebatan dengan teman.
Pertama-tama, setelah beberapa rutinitas wajib sebangun tidur, memasak nasi juga gak kalah wajibnya di setiap pagi-pagi saya.
Mengambil wadah, mengisinya dengan beberapa takaran beras, membawanya ke depan keran. Membilas, beberapa kali.
Pagi itu saya agak sedikit kacau dari pagi yang sebelum-sebelumnya. Perdebatan saya dengan kawan saya kemarennya ini ngebuat saya keuh-keuh sendiri. Rasanya tiap memikirkan permasalahan-bersama kita ini, di hati tuh kaya ada yang nyelekit gangguin seganggu-ganggunya. Mana kali ini untuk keberapa kalinya saya ngerasa kalo temen saya ini orangnya keras kepala banget, susah banget ngertiin saya, dan yang terpenting, saya selalu saja jatoh pada kesalahfahaman dia yang saangat sulit saya luruskan. Oya, plus dia adalah partner debat yang paling selalu menang dari saya! Rasanya, berkali-kali saya seperti gak bisa ngelakukan apa-apa kalo kita sudah bertengkar. Saya mau ngebalas, suasana dijamin tambah suram, saya diem aja rasanya saya bodoh banget. Pokoknya, memulai perselisihan dengan dia akan membuat saya pada akhirnya memiliki pagi yang kurang baik. Termasuk untuk setiap aktifitas pagi yang saya lakukan pastinya berakhir dengan hasil yang buat saya sendiripun mengernyitkan dahi dalem-dalem.
Dan! Dan seperti yang saya bilang baru saja. Beras yang tadi saya cuci tidak bergerak sama sekali. Hanya terus teremdam dengan rendamannya yang putih keruh. Tiba-tiba saya berfikir buat nyuci tuh beras sampe gak bersisa dengan air yang kerus seperti itu. Gobloknya lagi, antara masih lalod di pagi hari atau memang sesuatu, saya berfikir kalo beras ini saya bilas dengan baik, dengan 'sungguh-sungguh', berkali-kali, maka air bilasannya nanti akan menjadi bening. Dan seperti itulah yang berarti si berasnya udah benar-benar bersih dan baik. Padahal yah, sejak kecil tuh saya udah dibilangin klo cuci beras tuh bilasnya 2 kali sampe 3 kali aja, supaya kandungan vitaminnya gak larut semua dalam bilasan air yg nantinya bakal dibuang. Tapi pagi itu saya lagi aneh yah. Fikiran saya adalah membilas beras itu sampe airnya bening, seakan-akan saya sedang merasa menghapus sesuatu dalam hati temen saya tadi supaya tidak ada lagi masalah, layaknya menghapus tulisan-tulisan di papan tulis sekolah dulu.
Lima.. Enam.. Tujuh.. Sampe sepuluh kali (mungkin) saya membilas beras dalam wadah itu tapi tidak bening juga. Yang ada, saya lihat biji-biji beras itu jadi hancur sedikit demi sedikit karna saya ngebilasnya terlalu semangat kali yah ^^
“haduh! Mau diapakan nih, ntar jadinya nasi apa bukan yah?” sambil menghela nafas. Satu lagi pekerjaan pagi yang gak beres kaaan..? karna saya rasanya masih mau maen aer, selang dari keran saya alirkan ke wadah beras tadi. Lama, wadahnya penuh saya gak peduli. Saya isi bahkan sampe airnya tumpah keluar, meluap dari wadah yang ukurannya hanya sebesar panci itu. Saya perhatiin lamat-lamat, air keruh dari beras itu ikutan meluap sedangkan beras di dalamnya tetap tenang di dasar wadah. Tidak sampe semenit, wadah itu dipenuhi dengan air yang sekarang sudah menjadi bening dengan biji-biji beras pada dasarnya. Beras-beras yang gak sampe seliter, yang tadinya sudah saya cuci dan bilas dengan sungguh-sungguh, yang karena saking sungguh-sungguhnya sekarang sudah hampir berbentuk pasir pantai. Putih dan kecil. Iya, beras pada dasar wadah itu terlihat dari mata saya. Tidak lagi tertutup dengan air yang putih keruh seperti tadinya. Itu hanya gegaranya saya mengisi wadah itu dengan air terus-terusan tanpa ampun. Bukan karna saya membilas berasnya sampe bersih.
CLING!!
Saya mendapat inspirasi dan kesimpulan untuk masalah saya.
Cepat-cepat saya selesaikan prosesi mencuci beras yang lama sangat itu. Menakarnya ulang dengan air secukupnya lalu saya tanak dalam rice cooker. Beres.
Saya masuk ke kamar dan duduk berfikir tentang kejadian cuci beras tadi.
Satu kesimpulan.
Beras itu anggap aja hati manusia, saya gak perlu memaksakan hati orang lain untuk menjadi lebih baik dari yang saya harapkan. Karna hal itu sulit dan bahkan mungkin gak akan bisa terjadi. Perselisihan antara kita dengan saudara kita bahkan sudah menjadi lumrah dan teranggap sebagai bagian dari persaudaraan itu sendiri. Ketika masalah datang, ketika hati kita berbeda dengan mereka, ketika keinginan kita tidak tergambar jelas dalam benak mereka, ketika hati orang lain rasanya menjadi satu-satunya titik berat masalah padahal ada perkataan yang berkata bahwa dua orang sahabat itu adalah satu hati yang ditempatkan pada tubuh yang berbeda. Iyah, ketika orang lainlah yang rasanya selalu menjadi kunci masalah ini, yang “pokoknya dia yang harus begini” “pokoknya dia yang harus berubah” dan “pokoknya-pokoknya” yang lain yang harus dipenuhi oleh saudara kita, ketika itu..
Ketika itu sebenarnya kita yang harus bergerak untuk,, untuk mengalah.
Memutuskan untuk memberi pemisah antara kita. Diri kita dan saudara kita dari sebuah perselisihan dan keegoisan. Mengalah dan memberi kebaikan juga keikhlasan adalah solusi. Dan selalu menjadi solusi tepat namun menyusahkan. Tapi bagi yang merasa ukhuwah ini lebih berharga dari sekedar perasaan pribadi, mereka seharusnya menarik kesimpulan saya sebagai jalan keluar paling simple untuk dia. (hehe,maksa :D)
Dan, sekarang adalah saatnya menuangkan air banyak-banyak ke dalam wadah kepala, hati dan ruang antara kita dengan saudara kita, agar setiap biji-biji permasalahan dan kesalah fahaman yang membuat keruhnya hati dan fikiran ini menjadi jelas kembali. Bening kembali.
Kalau bukan dirimu yang pertama kali berfikir untuk mengalah dan memberi bening sejuknya sebuah kebaikan, lalu siapa?

*flashback* Dan, sekarang saatnya sarapan. Ummi ngebuka ricecookernya agak sedikit bingung, “kok nasinya kaya' bubur, Jid?”

Oopps^^

Tidak ada komentar: