Sabtu, 16 Januari 2016

Corridor

Karena kita manusia sedang berderet dalam antrian menuju satu pintu yang pasti.. itulah kematian.
Maka lapangkanlah dada2 itu kawan.
Kita tak tau kapan
akan menjabat maaf.
Kita adalah korban sang waktu, yang menguntai jarak sepanjang dugaanmu sejak malam dan siang.
Kita adalah defenisi setiap rasa, setiap peristiwa.
Karena kau mengenalku hanya bersama mimpiku yang separuh.
Disaat kita juga hanya dapat memandang haru.
Jangan salahkan analogi dan puisi yang terpenjara dengan kata.
Kita tetap saja mencemburui dusta
Dengan sinis dan lupa akan persamaan cinta
Lalu biarlah..
Aku ingin memejam kala teringat  bayanganmu yg memanjang di ubin lorong pertemuan kita

Tidak ada komentar: