Tampilkan postingan dengan label myMind. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label myMind. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 Januari 2016

Sadness

Masa lalu.
Sejak dulu saya gak ngerti dan tidak bisa merasakan bagaimana caranya menghibur diri dengan moment-moment bahagia di masa lalu. Karena selalunya, saya mengingat moment bahagia dari masa lalu tepat ketika saya sedang sedih berat. Dan saya masih tetap pengen mencoba menghibur diri dengan itu. Tapi yang terjadi adalah air mata yang berhasil tertahan malah berserobok keluar. Oh iya, tidak lupa hati saya berkata "masa lalu yang manis itu menyakitkan.."
Kalau mau difikir, mau saya apa? Jadi gak mau punya kenangan berbahagia?
Iya, oke saya mau lah ya.. Siapa juga yang mau hidupnya hanya penuh dengan lampu 5 watt, alias redup sepanjang masa. Hanya saja memang, bagi saya hal yang sangat menyakitkan adalah ketika saya sedang sedih lalu Beberapa moment bahagia tiba-tiba lewat di roll memory saya. Wujudnya kadang seperti short movie atau seperti power point presentase di seminar-seminar. :D
Bukan berarti wajah orang yang sedang membuat saya sedih saat ini yang berkelebat, tapi bermacam-macam wajah juga moment bahagia yang pernah saya alami, terus ter-play oleh proyektor dalam kepala saya. Serasa pake LCD gede segala lagi.
Jadi moment berbahagia memang menyenangkan bila diingat, tapi bukan disaat-saat saya sedang berkutat menahan air mata.
Karena hal yang paling saya takutkan terjadi di saat moment sedih saya adalah jatuhnya air mata. Di depan manusia-manusia yang saya sayangi dan didepan mereka yang menyayangi saya, juga berusaha susah payah membantu saya meraih kebahagiaan saya. Orangtua, juga saudara-saudara saya dan sahabat.
Bagi saya, menangis di depan mereka seperti sebuah pukulan kejam. Bayangkan, bila orangtua yang banyak mengorbankan ini itu untuk kebahagiaan kita, bagaikan terhempas tiada arti oleh sikap orang lain yang dengan mudahnya membuat air mata kita ngucur. Maka antisipasi paling sukses yang selalu saya tempuh adalah mengebalkan hati ketika berurusan dengan manusia-manusia kurang penting yang mana dia juga meng-kurang penting-kan perasaan kita.
Saya terbiasa tinggal misah dari orang tua, sejak kecil.
Seingat saya, waktu saya masih belum sekolah bahkan mungkin masih balita, saya sudah ditinggal sama ummi saya karena tugas PTT dokternya di kabupaten Soppeng. Saya tidak ingat pastinya berapa bulan. Saya juga lebih tidak ingat apa saja yang mebuat saya sedih. Haha, secara saya masih kecil. Paling berante sama kakak. Hee..
Tapi yang pasti tidak hanya sampai disitu.
Saya juga pernah berpisah lagi dari orangtua saya. Kali ini saya benar-benar misah karena saya dititip di rumah keluarga saya yang masih terbilang kakek jauh saya, beberapa bulan karena sebuah alasan penting (cieelaah). Tidak ada ummi tidak ada aba. Saya masih ingat, istri kakek saya itu sering emosian dan kebetulan saya buat kesalahan yang sekarang saya sudah lupa kesalahan fatal apa yang saya perbuat sampe-sampe istri kakek saya itu melipat semua jari tangan kanan saya sampe bunyi. Istilahx terpeletuk gitu lah.
Saya kalo ingat moment ini malah pengen ketawa. Karena entah siapa yang ajarin saya dulu, saya suka banget peletukin jari-jari tangan saya. Tapi ummi selalu negur karena gak bagus buat persendian tulang, apalagi saya masih kecil waktu itu. Masih SD. Makanya pas dihukum kayak itu rasanya malah seperti dikasih mainan baru. Hehe.
Tapi setelah kejadian itu saya masuk kamar mikir,"saya ini kan dihukum tadi.."
Jadinya tiba-tiba saya sadar kondisi dan jadi sedih. Aneh, tapi ya memang dasar anak kecil labil dan belum jelas. Saya cuma mikir, alhamdulillah saat itu tidak ada orangtua saya, kan bisa sedih mereka liat tangan anaknya digituin, meskipun yaa saya fine aja. Tapi sekarang saya juga mikir, kalo disitu ada ortu saya, malah tangan saya gak mungkin digituin. Haha
Oke, trus lanjut masa SMP dan dua tahun di masa SMA saya, semuanya saya jalani di pondok. Bener-bener minim campur tangan orang tua tuh. Tapi dipondok saya mengenal lagi sosok-sosok penuh kasih sayang dan perhatian. Mereka namanya sahabat.
Kali ini biasanya dari merekalah saya menghindarkan air mata. Dan kali ini gak tau juga kenapa harus begitu. Biasanya kan kalo sama sahabat yaa.. susah seneng, ketawa nangisnya bareng-bareng. Tapi saya masih juga suka menghindar dari tatapan mereka kalo lagi sedih. Karna ya seperti itu, tatapan mereka malah buat pertahanan jebol padahal visi-misi saya kalo sedih itu cuma "forget it. Itu semua gak ada, jadi jangan sampe nangis. Gak perlu". Mudah-mudah sulit juga. Tapi hanya seperti itu lah formula yang saya pakai. Itu selalu berhasil untuk kasus yang no curhat, no baper, and no special.
Jadi, kesedihan mendalam justru pengen saya habiskan sendirian. Itu lebih cepat mereda ketimbang beradu mata sama orang yang saya sayang, apalagi setelah itu episodenya jadi panjang karena plus sesi tanya jawab.
Saya mau nostalgia sedikit. Saya pernah punya masalah sama tiga sahabat saya sekaligus. Sodara di pondok gitu. Bertengkar dengan tiga gaya deh pokoknya. Karena mereka bertiga bukan sedang bersatu bertengkarin saya. Tapi tiga-tiganya beda soal. Bayangkan saja. Sampe setress juga. Pengen teriak di pantai kejauhan. Mau curhat bingung, tiga-tiganya tempat curhat saya. Lagi-lagi saya pilih menepi buat me-time. Trus waktu itu saya malah naik angkot ke unhas, habis ashar itu. Mobilx masuk dalam kampus, lewatin lapangan basket, workshop, fakultas teknik, trus ke depan pasca, fkm, kedokteran sampe hampir balik lagi ke depan kampus, tapi saya berhenti setelah fakultas sastra. Disana ada gedung yang kayaknya sepi dan di depannya ada meja-kursi jamur gitu. Sepertinya emang biasanya tempat nongkrong mahasiswa kali. Dan saya duduk disana, buka notebook trus nulis. Agak lama habis itu saya pulang. Belakangan saya tau, kalo sore tempat itu memang sepi karena gak ada yang berani nongkrong lagi disana. Katanya angker, mana berhubung lokasi situ memang mepetan sama rumah sakit wahidin. Jadi auranya serem-serem gimanaa gitu. Haha.
Emang yah saya itu selalu aja gak mengikuti kebiasaan peng-angker-an. Orang kata-katain angker, saya malah mojokan disana. Haha.. sory.
Kagak sengaja. :D

"Kesedihan terkadang langsung membawa insting kita untuk menulis. Cenderung ingin sekedar meluap atau bahkan memaki. Lalu perasaan itu habis bgtu saja setelah titik.
Tapi ketika berbahagia malah kadang kita lupa untuk menulis. Karena setiap detiknya terlalu berharga untuk kita habiskan dulu, lalu kemudian ditulis. Dan kebahagiaan tidak begitu saja habis setelah titik."

Alhamdulillah

Sabtu, 16 Januari 2016

Corridor

Karena kita manusia sedang berderet dalam antrian menuju satu pintu yang pasti.. itulah kematian.
Maka lapangkanlah dada2 itu kawan.
Kita tak tau kapan

Senin, 11 Januari 2016

Destiny

Ada suatu saat, atau suatu hal yang sangat saya cintai. Begitu cintanya sampai rasanya akan melakukan semuanya demi beberapa hal itu, tidak peduli apa.

Senin, 04 Januari 2016

Brain Complex

Ada sebuah moment hari ini yang membuat saya setengah menangis dan setengah tertawa.
Saya sedang berada di bawah langit yang terkadang meriah dengan desing pesawat. Sore ini, entah pukul berapa.

Minggu, 11 Januari 2015

Semangatlah

Jadi gini..
Masa karna tangan gak nyampe ke ujung pohon lantas kamu gak jadi mau makan mangga..?
Kamu pendek, lantas gak pernah mau mengambil buku yg kamu inginkan di rak paling atas sebuah perpustakaan..?
Kamu bukan dokter bukan suster lantas tak mau menolong adik kecil yg terluka karna jatuh dari sepedanya?
Kenapa..?
Tangan gak nyampe, manjat aja!
Pendek, naik ke kursi lah!
Bukan dokter, tp situasi mndesak, tolong dong!
Begitulah hidup, hal yang tak bisa, kelemahanmu, bukan posisimu.
So, mau apa? Kamu ttplah manusia yg punya seabrek keinginan dan jg kelemahan.
Jika tak bisa dg sesuatu, ambillah bantuan, tarik seluruh yang kau miliki dalam dirimu untuk itu.
Kau bukan pecundang yang terus diam menunggu kabar baik bukan..?
Meski tampaknya tak mungkin, tetap jangan bohongi dirimu, dan berusahalah.
Berkat husnudzonmu kepada Allah, mungkin kau merupakan satu dari sedikit orang yg trtakdir untuk meraih hal-hal yg org katakan mustahil untuk dirimu. Apapun itu!!

~semangati setiap mimpimu, agak setiap mimpi itu tdk berhenti disana dan bisa kau genggam utuh kelak~

Kamis, 20 November 2014

Pure, Cold a Goodness

Seperti wanita pada umumnya, memasak adalah pekerjaan yang harus ia
perankan (di-peran-kan) bagi yang merasa wanita yang 'baik-baik aja'. Begitulah memasak nasi sudah menjadi pekerjaan wajib. Ya iyalah yaa.. nasi udah jadi makanan pokok warga negara ini.
Pagi ini, seperti biasa

Rabu, 17 September 2014

I know

Saya hanya seorang sajidah. Seorang luka. Seorang kecewa. Seorang sakit. Seorang bosan. Seorang kata lampau. Seorang sajidah. Tidak lebih.
Saya hanya seorang yg tak pernah ada, tak bisa selalu ada, di saat2 paling genting apalagi.

Senin, 06 Januari 2014

Syukurilah..!!

Kita memang sudah seharusnya mensyukuri semua hal yang ada dalam hidup kita. Nikmat yang terasa, bahagia yang tak tertanggung-tanggung, kesenangan bertubi-tubi. Bahkan pada kenestapaan yang mencabik, semua hal tentang penderitaan, air mata sampai hal-hal paling menyulitkan yang pernah ada.
Mungkin itu jalan-Nya untuk lebih menyanyangi kita. Supaya hambaNya ini lebih banyak mendekatkan diri, mengadu di malam-malam pekat. Mungkin Allah Sedang  ingin bahkan senang mendengar semua doa-doa yang ia panjatkan.

Genangan dari Sebuah Pilihan

Di tengah malam yang pekat,
Di sudut kamarku yang sudah lama sepi..


Kita memang bukan malaikat yang selalu mulia.

Sabtu, 16 November 2013

Senin, 14 Oktober 2013

Tentang Doa, Juga Ukhuwahku

     Malam itu lagilagi saya kena marah olehmu, karna sebuah hal yang kau bilang itu kesalahan saya. Berbagai katakata yang tidak saya sukai keluar dari mulutmu. Dan saya? Tidak akan berkata sepatah katapun jika sudah seperti ini. Yah, lebih karna saya tidak ingin 'cari garagara'lah istilahnya.

Senin, 12 Agustus 2013

Catatan Yang Tertinggal Selama 40 Senja (9)

>>Senja ke-20, Rabu Ragu
     12 Juni 2013

      Sikap saya dalam menyelesaikan masalah kali ini dipermasalahkan. Mungkin lagilagi bagi orang banyak, saya itu merepotkan, saya itu menyusahkan orang lain, bandel, keras kepala, orangnya selalu punya alasan demi dirinya, demi zona aman yang selalu ingin dia ciptakan dari paksaannnya atas orang lain, seringsering cerewet juga. Lagilagi menyusahkan orang lain.

Rabu, 07 Agustus 2013

Bayangan Ramadhan 1434

_Malam Ramadhan terakhir, Selasa 6 Agustus 2013  

     Menyusuri jalanan malam abdesir di pusat kota Makassar, menuju Mesjid Wihdatul Ummah untuk melaksanakan shalat tarwih terakhir saya di sana bersama kawan setia saya yang baeeknya super baek, Lina.

Selasa, 06 Agustus 2013

Catatan Yang Tertinggal Selama 40 Senja (5)

>>Senja ke-8, Jum'at yang 'tak ada'
     31 Mei 2013

Merasai suasana yang tak berbahasa.
Merasai bising, merasai asing, merasai sepi.
Bisu tak bernuansa. 
Tapi perasaan itu nyata. Mengembun di atas rumah. 
Ia ingin mengurainya, tapi sudah kukatakan!
Ia tak punya bahasa!!


**********************************************************************************
@atap yang basah
Sepanjang pagi yg percuma. Sy berada d sana, merasai, dan malah diam..Tak bisa mngeluarkan kata

Senin, 05 Agustus 2013

Catatan Yang Tertinggal Selama 40 senja (4)

>>Senja ke-7, pada Kamis yang bercerita tentang takdir
     30 Mei 2013

    Sujud pertama shalat maghrib petang itu, saya menangis. Mengurai doa tentang kebaikan, penjagaan, kekuatan.

Minggu, 04 Agustus 2013

Catatan Yang Tertinggal Selama 40 Senja (3)

>>Setelah senja ke-5, di Malam Rabu yang Sesak
      28 Mei 2013

Memang tak ada yang tau hati manusia seperti apa, kan? Bagaimanapun keadaannya, yang meskipun samasama dijalani. Tapi selalu saja, rasa tetap berbeda

Catatan Yang Tertinggal Selama 40 Senja (2)

> Senja ke-5, di selasa yang penuh tekateki
   28 Mei 2013

Tangga itu, sebenarnya mengingatkan saya dengan sesuatu. Entah apa.. Tapi yang saya rasa, perut ini jadi tidak enak. Perasaan semacam saya yang sedang de javu.
Tangga itu, mengukir senyum sore itu. Entah apa, yang ada adalah sayap dari doadoa.

Jumat, 02 Agustus 2013

Catatan yang Tertinggal Selama 40 Senja (1)

> Senja Pertama, Hingga Membuka Pagipagi yang sulit
   23 Mei 2013
    
    Sepuluh hari pertama, untuk alasan yang agak masuk akal, saya jadi sering merontaronta. Tapi lewat tulisan, jadi tidak mengganggu peserta daurah lain dengan kegaduhan jeritan cempreng saya.

Minggu, 14 April 2013

Sorry

Sesal. Menyesal. Penyesalan.
Kata itu sangat jarang menyapa. Entah saya yang kurang ngerti ato saya yang tidak pernah nyadar ato emang saya  yang lupa untuk menyadari??

Jumat, 29 Maret 2013

death

Biasa, ada sebagisn orang yg masih bertanya tentang kematian.Dan bagi saya, itu adalah tahap kehidupan manusia selanjutnya. Sebab di dunia ini baru awal yang singkat bagi kita. Di negri akhirat sanalah kehidupan yang benarbenar hidup.