Minggu, 24 Januari 2016

Gate of The World

Saya terinspirasi dengan tulisan ini. Meskipun sudah punya passport dan sudah menginjak 6 negara, saya belum benar-benar melihat dan memungut satu per satu pengalaman berharga yang banyak. Semoga kemudian hari saya dan kamu yang membaca ini bisa melihat lebih banyak lagi dunia di setiap sudut-sudut bumi Allah ini. Aamiin ya Robb..

"Miliki pintu duniamu sekarang, untuk kau masuki satu persatu kelak..!!"

-----------------------------------------------------------------------
PASSPORT
Oleh Rhenald Kasali

[Jawapos, 8 Agustus 2011]
Setiap saat mulai perkuliahan, saya selalu bertanya kepada mahasiswa berapa orang yang sudah memiliki pasport. Tidak mengherankan, ternyata hanya sekitar 5% yang mengangkat tangan. Ketika ditanya berapa yang sudah pernah naik pesawat, jawabannya melonjak tajam. Hampir 90% mahasiswa saya sudah pernah melihat awan dari atas. Ini berarti mayoritas anak-anak kita hanyalah pelancong lokal. Maka, berbeda dengan kebanyakan dosen yang memberi tugas kertas berupa PR dan paper, di kelas-kelas yang saya asuh saya memulainya dengan memberitugas mengurus pasport. Setiap mahasiswa harus memiliki "surat ijin memasuki dunia global.". Tanpa pasport manusia akan kesepian, cupet,terkurung dalam kesempitan, menjadi pemimpin yang steril. Dua minggu kemudian, mahasiswa sudah bisa berbangga karena punya pasport.Setelah itu mereka bertanya lagi, untuk apa pasport ini? Saya katakan,pergilah keluar negeri yang tak berbahasa Melayu. Tidak boleh ke Malaysia,Singapura, Timor Leste atau Brunei Darussalam. Pergilah sejauh yang mampu dan bisa dijangkau.
"Uang untuk beli tiketnya bagaimana, pak?"
Saya katakan saya tidak tahu.

*Dalam hidup ini, setahu saya hanya orang bodohlah yang selalu memulai pertanyaan hidup, apalagi memulai misi kehidupan dan tujuannya dari uang.* Dan begitu seorang pemula bertanya uangnya dari mana, maka ia akan terbelenggu oleh constraint. Dan hampir pasti jawabannya hanyalah tidak ada uang, tidak bisa, dan tidak mungkin. Pertanyaan seperti itu tak hanya ada di kepala mahasiswa, melainkan juga para dosen steril yang kurang jalan-jalan. Bagi mereka yang tak pernah melihat dunia, luar negeri terasa jauh, mahal, mewah, menembus batas kewajaran dan buang-buang uang. Maka tak heran banyak dosen yang takut sekolah ke luar negeri sehingga memilih kuliah di almamaternya sendiri. Padahal dunia yang terbuka bisa membukakan sejuta kesempatan untuk maju. Anda bisa mendapatkan sesuatu yang yang terbayangkan, pengetahuan, teknologi, kedewasaan, dan wisdom. Namun beruntunglah, pertanyaan seperti itu tak pernah ada di kepala para pelancong, dan diantaranya adalah mahasiswa yang dikenal sebagai kelompok backpackers. Mereka adalah pemburu tiket dan penginapan super murah, menggendong ransel butut dan bersandal jepit, yang kalau kehabisan uang bekerja di warung sebagai pencuci piring. Perilaku melancong mereka sebenarnya tak ada bedanya dengan remaja-remaja Minang, Banjar, atau Bugis, yang merantau ke Pulau Jawa berbekal seadanya. Ini berarti tak banyak orang yang paham bahwa bepergian keluar negeri sudah tak semenyeramkan, sejauh, bahkan semewah di masa lalu. Seorang mahasiswa asal daerah yang saya dorong pergi jauh, sekarang malah rajin bepergian. Ia bergabung ke dalam kelompok PKI (Pedagang Kaki LimaInternasional) yang tugasnya memetakan pameran-pameran besar yang dikoordinasi pemerintah. Disana mereka membuka lapak, mengambil resiko, menjajakan aneka barang kerajinan, dan pulangnya mereka jalan-jalan, ikut kursus, dan membawa dolar. Saat diwisuda, ia menghampiri saya dengan menunjukkan pasportnya yang tertera stempel imigrasi dari 35 negara. Selain kaya teori, matanya tajam mengendus peluang dan rasa percaya tinggi. Saat teman-temannya yang lulus cum-laude masih mencari kerja, ia sudah menjadi eksekutif di sebuah perusahaan besar di luar negeri.

*The Next Convergence*
Dalam bukunya yang berjudul The Next Convergence, penerima hadiah Nobel ekonomi Michael Spence mengatakan, dunia tengah memasuki Abad Ke tiga dari Revolusi Industri. dan sejak tahun 1950, rata-rata pendapatan penduduk dunia telah meningkat dua puluh kali lipat. Maka kendati penduduk miskin masih banyak, adalah hal yang biasa kalau kita menemukan perempuan miskin-lulusan SD dari sebuah dusun di Madura bolak-balik Surabaya-Hongkong.Tetapi kita juga biasa menemukan mahasiswa yang hanya sibuk demo dan tak pernah keluar negeri sekalipun. Jangankan ke luar negeri, tahu harga tiket pesawat saja tidak, apalagi memiliki pasport. Maka bagi saya, penting bagi para pendidik untuk membawa anak-anak didiknya melihat dunia. Berbekal lima ratus ribu rupiah, anak-anak SD dari Pontianak dapat diajak menumpang bis melewati perbatasan Entekong memasuki Kuching. Dalam jarak tempuh sembilan jam mereka sudah mendapatkan pelajaran PPKN yang sangat penting, yaitu pupusnya kebangsaan karena kita kurang urus daerah perbatasan. Rumah-rumah kumuh, jalan berlubang, pedagang kecil yang tak diurus Pemda, dan infrastruktur yang buruk ada di bagian sini. Sedangkan hal sebaliknya ada di sisi seberang. Anak-anak yang melihat dunia akan terbuka matanya dan memakai nuraninya saat memimpin bangsa di masa depan. Di universitas Indonesia, setiap mahasiswa saya diwajibkan memiliki pasport dan melihat minimal satu negara. Dulu saya sendiri yang menjadi gembala sekaligus guide nya. Kami menembus Chiangmay dan menyaksikan penduduk miskin di Thailand dan Vietnam bertarung melawan arus globalisasi. Namun belakangan saya berubah pikiran, kalau diantar oleh dosennya, kapan memiliki keberanian dan inisiatif? Maka perjalanan penuh pertanyaan pun mereka jalani. Saat anak-anak Indonesia ketakutan tak bisa berbahasa Inggris, anak-anak Korea dan Jepang yang huruf tulisannya jauh lebih rumit dan pronounciation-nya sulit dimengerti menjelajahi dunia tanpa rasa takut. Uniknya, anak-anak didik saya yang sudah punya pasport itu 99% akhirnya dapat pergi keluar negeri. Sekali lagi,jangan tanya darimana uangnya. Mereka memutar otak untuk mendapatkan tiket, menabung, mencari losmen-losmen murah, menghubungi sponsor dan mengedarkan kotak sumbangan. Tentu saja, kalau kurang sedikit ya ditomboki dosennya sendiri. Namun harap dimaklumi, anak-anak didik saya yang wajahnya ndeso sekalipun kini dipasportnya tertera satu dua cap imigrasi luar negeri. Apakah mereka anak-anak orang kaya yang orangtuanya mampu membelikan mereka tiket? Tentu tidak. Di UI, sebagian mahasiswa kami adalah anak PNS, bahkan tidak jarang mereka anak petani dan nelayan. Tetapi mereka tak mau kalah dengan TKW yang meski tak sepandai mereka, kini sudah pandai berbahasa asing. Anak-anak yang ditugaskan ke luar negeri secara mandiri ternyata memiliki daya inovasi dan inisiatif yang tumbuh. Rasa percaya diri mereka bangkit. Sekembalinya dari luar negeri mereka membawa segudang pengalaman, cerita, gambar dan foto yang ternyata sangat membentuk visi mereka. Saya pikir ada baiknya para guru mulai membiasakan anak didiknya memiliki pasport. Pasport adalah tiket untuk melihat dunia, dan berawal dari pasport pulalah seorang santri dari Jawa Timur menjadi pengusaha di luar negeri. Di Italy saya bertemu Dewi Francesca, perempuan asal Bali yang memiliki kafe yang indah di Rocca di Papa. Dan karena pasport pulalah, Yohannes Surya mendapat beasiswa di Amerika Serikat. Ayo, jangan kalah dengan Gayus Tambunan atau Nazaruddin yang baru punya pasport dari uang negara.

*Rhenald Kasali, Guru Besar Universitas Indonesia

**RAIHLAH ILMU, DAN UNTUK MERAIH ILMU, BELAJARLAH UNTUK TENANG, DAN SABAR.

Sabtu, 23 Januari 2016

Sadness

Masa lalu.
Sejak dulu saya gak ngerti dan tidak bisa merasakan bagaimana caranya menghibur diri dengan moment-moment bahagia di masa lalu. Karena selalunya, saya mengingat moment bahagia dari masa lalu tepat ketika saya sedang sedih berat. Dan saya masih tetap pengen mencoba menghibur diri dengan itu. Tapi yang terjadi adalah air mata yang berhasil tertahan malah berserobok keluar. Oh iya, tidak lupa hati saya berkata "masa lalu yang manis itu menyakitkan.."
Kalau mau difikir, mau saya apa? Jadi gak mau punya kenangan berbahagia?
Iya, oke saya mau lah ya.. Siapa juga yang mau hidupnya hanya penuh dengan lampu 5 watt, alias redup sepanjang masa. Hanya saja memang, bagi saya hal yang sangat menyakitkan adalah ketika saya sedang sedih lalu Beberapa moment bahagia tiba-tiba lewat di roll memory saya. Wujudnya kadang seperti short movie atau seperti power point presentase di seminar-seminar. :D
Bukan berarti wajah orang yang sedang membuat saya sedih saat ini yang berkelebat, tapi bermacam-macam wajah juga moment bahagia yang pernah saya alami, terus ter-play oleh proyektor dalam kepala saya. Serasa pake LCD gede segala lagi.
Jadi moment berbahagia memang menyenangkan bila diingat, tapi bukan disaat-saat saya sedang berkutat menahan air mata.
Karena hal yang paling saya takutkan terjadi di saat moment sedih saya adalah jatuhnya air mata. Di depan manusia-manusia yang saya sayangi dan didepan mereka yang menyayangi saya, juga berusaha susah payah membantu saya meraih kebahagiaan saya. Orangtua, juga saudara-saudara saya dan sahabat.
Bagi saya, menangis di depan mereka seperti sebuah pukulan kejam. Bayangkan, bila orangtua yang banyak mengorbankan ini itu untuk kebahagiaan kita, bagaikan terhempas tiada arti oleh sikap orang lain yang dengan mudahnya membuat air mata kita ngucur. Maka antisipasi paling sukses yang selalu saya tempuh adalah mengebalkan hati ketika berurusan dengan manusia-manusia kurang penting yang mana dia juga meng-kurang penting-kan perasaan kita.
Saya terbiasa tinggal misah dari orang tua, sejak kecil.
Seingat saya, waktu saya masih belum sekolah bahkan mungkin masih balita, saya sudah ditinggal sama ummi saya karena tugas PTT dokternya di kabupaten Soppeng. Saya tidak ingat pastinya berapa bulan. Saya juga lebih tidak ingat apa saja yang mebuat saya sedih. Haha, secara saya masih kecil. Paling berante sama kakak. Hee..
Tapi yang pasti tidak hanya sampai disitu.
Saya juga pernah berpisah lagi dari orangtua saya. Kali ini saya benar-benar misah karena saya dititip di rumah keluarga saya yang masih terbilang kakek jauh saya, beberapa bulan karena sebuah alasan penting (cieelaah). Tidak ada ummi tidak ada aba. Saya masih ingat, istri kakek saya itu sering emosian dan kebetulan saya buat kesalahan yang sekarang saya sudah lupa kesalahan fatal apa yang saya perbuat sampe-sampe istri kakek saya itu melipat semua jari tangan kanan saya sampe bunyi. Istilahx terpeletuk gitu lah.
Saya kalo ingat moment ini malah pengen ketawa. Karena entah siapa yang ajarin saya dulu, saya suka banget peletukin jari-jari tangan saya. Tapi ummi selalu negur karena gak bagus buat persendian tulang, apalagi saya masih kecil waktu itu. Masih SD. Makanya pas dihukum kayak itu rasanya malah seperti dikasih mainan baru. Hehe.
Tapi setelah kejadian itu saya masuk kamar mikir,"saya ini kan dihukum tadi.."
Jadinya tiba-tiba saya sadar kondisi dan jadi sedih. Aneh, tapi ya memang dasar anak kecil labil dan belum jelas. Saya cuma mikir, alhamdulillah saat itu tidak ada orangtua saya, kan bisa sedih mereka liat tangan anaknya digituin, meskipun yaa saya fine aja. Tapi sekarang saya juga mikir, kalo disitu ada ortu saya, malah tangan saya gak mungkin digituin. Haha
Oke, trus lanjut masa SMP dan dua tahun di masa SMA saya, semuanya saya jalani di pondok. Bener-bener minim campur tangan orang tua tuh. Tapi dipondok saya mengenal lagi sosok-sosok penuh kasih sayang dan perhatian. Mereka namanya sahabat.
Kali ini biasanya dari merekalah saya menghindarkan air mata. Dan kali ini gak tau juga kenapa harus begitu. Biasanya kan kalo sama sahabat yaa.. susah seneng, ketawa nangisnya bareng-bareng. Tapi saya masih juga suka menghindar dari tatapan mereka kalo lagi sedih. Karna ya seperti itu, tatapan mereka malah buat pertahanan jebol padahal visi-misi saya kalo sedih itu cuma "forget it. Itu semua gak ada, jadi jangan sampe nangis. Gak perlu". Mudah-mudah sulit juga. Tapi hanya seperti itu lah formula yang saya pakai. Itu selalu berhasil untuk kasus yang no curhat, no baper, and no special.
Jadi, kesedihan mendalam justru pengen saya habiskan sendirian. Itu lebih cepat mereda ketimbang beradu mata sama orang yang saya sayang, apalagi setelah itu episodenya jadi panjang karena plus sesi tanya jawab.
Saya mau nostalgia sedikit. Saya pernah punya masalah sama tiga sahabat saya sekaligus. Sodara di pondok gitu. Bertengkar dengan tiga gaya deh pokoknya. Karena mereka bertiga bukan sedang bersatu bertengkarin saya. Tapi tiga-tiganya beda soal. Bayangkan saja. Sampe setress juga. Pengen teriak di pantai kejauhan. Mau curhat bingung, tiga-tiganya tempat curhat saya. Lagi-lagi saya pilih menepi buat me-time. Trus waktu itu saya malah naik angkot ke unhas, habis ashar itu. Mobilx masuk dalam kampus, lewatin lapangan basket, workshop, fakultas teknik, trus ke depan pasca, fkm, kedokteran sampe hampir balik lagi ke depan kampus, tapi saya berhenti setelah fakultas sastra. Disana ada gedung yang kayaknya sepi dan di depannya ada meja-kursi jamur gitu. Sepertinya emang biasanya tempat nongkrong mahasiswa kali. Dan saya duduk disana, buka notebook trus nulis. Agak lama habis itu saya pulang. Belakangan saya tau, kalo sore tempat itu memang sepi karena gak ada yang berani nongkrong lagi disana. Katanya angker, mana berhubung lokasi situ memang mepetan sama rumah sakit wahidin. Jadi auranya serem-serem gimanaa gitu. Haha.
Emang yah saya itu selalu aja gak mengikuti kebiasaan peng-angker-an. Orang kata-katain angker, saya malah mojokan disana. Haha.. sory.
Kagak sengaja. :D

"Kesedihan terkadang langsung membawa insting kita untuk menulis. Cenderung ingin sekedar meluap atau bahkan memaki. Lalu perasaan itu habis bgtu saja setelah titik.
Tapi ketika berbahagia malah kadang kita lupa untuk menulis. Karena setiap detiknya terlalu berharga untuk kita habiskan dulu, lalu kemudian ditulis. Dan kebahagiaan tidak begitu saja habis setelah titik."

Alhamdulillah

Sabtu, 16 Januari 2016

Corridor

Karena kita manusia sedang berderet dalam antrian menuju satu pintu yang pasti.. itulah kematian.
Maka lapangkanlah dada2 itu kawan.
Kita tak tau kapan

Senin, 11 Januari 2016

Destiny

Ada suatu saat, atau suatu hal yang sangat saya cintai. Begitu cintanya sampai rasanya akan melakukan semuanya demi beberapa hal itu, tidak peduli apa.

Senin, 04 Januari 2016

Brain Complex

Ada sebuah moment hari ini yang membuat saya setengah menangis dan setengah tertawa.
Saya sedang berada di bawah langit yang terkadang meriah dengan desing pesawat. Sore ini, entah pukul berapa.

Sabtu, 02 Januari 2016

Began to Fly

Sepasang sayap belia mengepak bebas diantara awan
Terkadang menebas hujan atau sekawan angin sore
Atau di suatu pagi

Minggu, 11 Januari 2015

Everything with prosses

Mau pintar? Makanya, belajar..
Contoh lain. Mau sukses? Makanya, usaha..
Mau sehat? Makanya, olah raga..
Mau baik? Makanya, konsisten..
Bgtu

I Like, I Love

Kata seorang bocah kecil, sangat kecil malah. "Tulis apa saja yang kita sukai, tidak usah yang tidak kita sukai. Supaya kita tidak perlu bersedih".
Ucapan seorang bocah polos, terlalu polos untuk memiliki fikiran sedramatis ini. Hehe.
Okeh, saya sedang sedih, tapi saya gak mau melanjutkan.
Okeh, mulai..
Saya adalah penyuka ice cream. Senang dengan coklat. Bergembira jika hujan, dan sukanya tertidur mendengar suara hujan dari atas atap rumah. Saya suka bulan purnama. Suara ombak. Angin, kecuali angin dinginnya malam. Saya suka sekali dengan jaket, apalagi saat dingin. Saya suka jendela. Tempat tinggi. Pinggir dermaga. Ruangan sempit. Kemeja kotak-kotak. Jilbab warna biru. Papan scheedule yang kotor. Tembok penuh tempelan materi ujian. Rumus matematika dan fisika.
Saya senang dengan warna hitam, putih, coklat, dan abu-abu. Tapi tetap jatuh cinta kalo langit warnanya biru bersihh. Lebih suka sunrise daripada sunset. Juga lebih suka mie goreng daripada mie kuah.
Saya suka nulis, dan sangat suka kalo sedang pusing karena kerjain soal hitungan. Oya, akhir-akhir ini saya baru sadar juga, klo saya gak suka kesunyian. Saya suka suara bising anak-anak yg bermain di lapangan. Saya juga suka basket. Haha, tau tidak, saya juga suka dengan laki-laki pendiam dan jaim. Tapi saya juga tetep suka dengan perempuan yang sedikit cerewet. Jika disuruh memilih, saya lebih suka dengan keramaian tanpa suara daripada berdua dengan orang yang super bising.

Dan lagi..lagi.. Lagi banyak hal yang begitu saya sukai dalan kehidupan ini. Itu bisa menjadi suatu yang begitu saya syukuri. Tidak banyak menuntut pada dunia dan begitu mudah menyukai setiap keadaan. Seorang yang menuntut bahagia lalu bisa menyukai adalah seorang yang banyak menghabiskan waktunya untuk harapan tinggi tak pasti.
Sebaliknya, berbahagialah agar kau bisa mencintai apapun di sekitarmu.

With love,
Sajidah

Semangatlah

Jadi gini..
Masa karna tangan gak nyampe ke ujung pohon lantas kamu gak jadi mau makan mangga..?
Kamu pendek, lantas gak pernah mau mengambil buku yg kamu inginkan di rak paling atas sebuah perpustakaan..?
Kamu bukan dokter bukan suster lantas tak mau menolong adik kecil yg terluka karna jatuh dari sepedanya?
Kenapa..?
Tangan gak nyampe, manjat aja!
Pendek, naik ke kursi lah!
Bukan dokter, tp situasi mndesak, tolong dong!
Begitulah hidup, hal yang tak bisa, kelemahanmu, bukan posisimu.
So, mau apa? Kamu ttplah manusia yg punya seabrek keinginan dan jg kelemahan.
Jika tak bisa dg sesuatu, ambillah bantuan, tarik seluruh yang kau miliki dalam dirimu untuk itu.
Kau bukan pecundang yang terus diam menunggu kabar baik bukan..?
Meski tampaknya tak mungkin, tetap jangan bohongi dirimu, dan berusahalah.
Berkat husnudzonmu kepada Allah, mungkin kau merupakan satu dari sedikit orang yg trtakdir untuk meraih hal-hal yg org katakan mustahil untuk dirimu. Apapun itu!!

~semangati setiap mimpimu, agak setiap mimpi itu tdk berhenti disana dan bisa kau genggam utuh kelak~

Sabtu, 22 November 2014

Hello, system..!(?)

Spec tiap orang beda-beda yaaa. Allah ciptakan masing-masing dari kita tuh unik. Tapi kemudian kita distandarkan oleh sistem. Dengan output pintar atau bodoh. Padahal letak tombol ON tiap orang beda-beda kali. Kehebatan masing-masing orang tidak sama.

Emmm, bayangkan hewan-hewan di kebun binatang ikut ujian nasional biar bisa dapat ijazah (tanda bukti benar2 hewan :D).
Soal ujiannya: Praktek terbang (karna standar pintar harus bisa terbang).
Maka yang dapat lulus dan dibilang murid genius cuma burung. Walaupun ikan berusaha mati-matian belajar terbang, terus saja dia gagal, dan pada akhirnya dia merasa bodoh. Padahal tombol ON-nya ikan baru bisa menyala pas dianya lagi di air. Tapi mau bagaimana lagi?? Standar pintar harus bisa terbang, bukan berenang. Miris!

Atau seperti kentang dengan bentuk yang berbeda-beda. Setelah masuk pabrik dan diproses, semua keluar menjadi keripik kentang dengan bungkus yang sama. Kalo tidak sesuai standar, maka mereka dikatakan 'produk gagal'.
Manusia bukan kentang, tapi menjadi beda merupakan kesalahan (padahal dari awal kita sudah beda keles).
Standar orang normal punya 2 kaki dan 2 tangan. Maka mereka yang tidak memenuhi standar dikatakan 'berkebutuhan khusus'. Karena penamaan yang berbeda, tidak sedikit dari mereka yang merasa 'kecil'. Padahal kalau Allah sudah ciptakan demikian, berarti Allah juga sudah siapkan cara hidup yang cocok untuk dia. Seperti mereka yang survive dengan 2 tangan dan 2 kaki, maka PASTInya mereka juga akan survive tanpa tangan dan kaki.
(to begin with: Allah tidak mungkin menyia-nyiakan hambanya).

Kemudian banyak orang-orang mulai menyalahkan sistem yang bekerja saat ini. Seperti penjara, mereka terjebak dan terpenjara di dalam sistem (termasuk saya nih). Kemudian saya coba keluar dari sistem. BUT nothing is right. too difficult to bear. i have no choice except to back to the track (loser? coward?? whatever). Then I realize something:
"Bukannya sistem ini yang membuat juga manusia?"
Tapi kenapa kita terjebak didalamnya?? Yang terjadi, bukan kita yang mengontrol sistem, tapi kita yang dikontrol oleh sistem. Ada orang-orang yang mengatakan pers**an dengan sistem (saya salah satunya). Tapi faktanya tanpa adanya sistem, mereka yang lainnya akan berantakan. Bahkan mungkin pada akhirnya sayapun sedikit demi sedikit merasa seperti itu. Nah buatan manusia tidak ada yang sempurna kan yah?? karena ada pihak-pihak yang tersudut dan tidak bahagia.
Terus sistem mana yang sempurna??

Sistem yang diajarkan Allah. Allah penciptanya, maka Allah juga sudah kasih 'manualnya' (instalation guide to live on this earth). heehee

*hasil renungan dari someone, dg beberapa editan sana sini :)

Nothing

Berjalan menuju waktu yang tak diinginkan

Tak akan lama lagi
Dan gelisah menertawaiku
Hal yang sulit adalah melupakan rasa sakit
Aku tau, aku akan hidup dengan kenangan-kenangan tentangmu
Terlalu perih..
Terlalu sakit..
Dikepung rindu untukmu

Aku takut, kau melupakanku..

Kamis, 20 November 2014

Pure, Cold a Goodness

Seperti wanita pada umumnya, memasak adalah pekerjaan yang harus ia
perankan (di-peran-kan) bagi yang merasa wanita yang 'baik-baik aja'. Begitulah memasak nasi sudah menjadi pekerjaan wajib. Ya iyalah yaa.. nasi udah jadi makanan pokok warga negara ini.
Pagi ini, seperti biasa

Minggu, 09 November 2014

Winter,

Seperti seorang wanita paruh baya, sedang khusyu' di balik jendela. Mengamati cucunya di luar sana. Sembari tangannya memintal benang, merajut sebuah syal.
Kiranya masih sempurna ingatannya tentang

Rabu, 17 September 2014

I know

Saya hanya seorang sajidah. Seorang luka. Seorang kecewa. Seorang sakit. Seorang bosan. Seorang kata lampau. Seorang sajidah. Tidak lebih.
Saya hanya seorang yg tak pernah ada, tak bisa selalu ada, di saat2 paling genting apalagi.

Senin, 01 September 2014

Bintang Sore itu

Aku hanya ingin menjadi seperti bintang.
 
Yang terang
 
Yang cerah

Moving

Lama sekali sejak tulisan terakhir yang saya pampang di sini. Tanggal 6 Januari 2014. Sudah delapan bulan lebih tertinggal dan tak terurus. Udah lapuk kalau misal blog saya terbuat dari kayu. Hahahaaa
Wah lihat, mungkin bahkan blog saya ini sudah sangat kotor dan bersarang laba-laba. Yiaak!! -__-
Mungkin kata-katanya benar. Bahwa seseorang tergerak

Senin, 06 Januari 2014

Paradise | Maher Zain


I remember when I first met you
Teringatku saat pertama berjumpa dirimu
I felt that God answered my call
Kumerasa Tuhan menjawab doaku
There was that one place I always thought about

Ada satu tempat yang selalu kupikirkan
And I just wanted to be

Sentilan dari si Egois

Yah toh, pada sesiapa pun bahkan selalu ada pelajaran yang bisa terpetik, dari sebuah tafakkur dan perenungan yang panjang mungkin.
Kali ini bahkan saya menemukan segepok motivasi. Anyway, mengenal ke-negatif-an bukan berarti gak bisa menemukan apa-apa padanya. Meskipun berada di sampingnya, sering kali tergores sedikit di hati rasa sakit. tapi itulah

Syukurilah..!!

Kita memang sudah seharusnya mensyukuri semua hal yang ada dalam hidup kita. Nikmat yang terasa, bahagia yang tak tertanggung-tanggung, kesenangan bertubi-tubi. Bahkan pada kenestapaan yang mencabik, semua hal tentang penderitaan, air mata sampai hal-hal paling menyulitkan yang pernah ada.
Mungkin itu jalan-Nya untuk lebih menyanyangi kita. Supaya hambaNya ini lebih banyak mendekatkan diri, mengadu di malam-malam pekat. Mungkin Allah Sedang  ingin bahkan senang mendengar semua doa-doa yang ia panjatkan.

Genangan dari Sebuah Pilihan

Di tengah malam yang pekat,
Di sudut kamarku yang sudah lama sepi..


Kita memang bukan malaikat yang selalu mulia.